KAPTEN
Oleh : Lia Dwi Arifatun
Sudah bertahun tahun aku ada di toko ini. Aku dipajang di etalase paling
depan. Tapi tetap saja belum ada yang membeliku. Padahal aku bukanlah bola yang
murahan. Walaupun hargaku bisa di bilang murah. Sudah bertahun-tahun aku
disini. Sudah bertahun-tahun pula aku bersabar ketika melihat bola lain dipilih
dan dibeli oleh majikan barunya. Molter dan Mikasla. Aku sebal melihat mereka.
Mereka baru datang seminggu yang lalu. Tetapi sudah banyak anak-anak muda yang
membelinya. Harga mereka memang beda jauh denganku. Tapi percayalah, Aku adalah
bola yang setia. Kadang Aku marah dengan Tuhan. Tapi aku lebih sering
menggantungkan doa-doaku di sisi-Nya. Bola yang plin-plan.
Aku terkejut ketika mendengar suara hantaman yang keras. Oh tidak. Ada
kakek-kakek yang tertabrak Mobil. Kecelakaan itu begitu mengerikan. Kepala si
Kakek berdarah. Aku tak sanggup melihatnya, aku lebih memilih memejamkan
mataku. Tidak bisa. Aku penasaran. Semua orang di sekeliling kakek itu tidak
berani menolong. Aku gemas. Manusia seperti apa mereka. Tiba-tiba anak kecil
datang. Ia memakai pakaian lusuh, dan dia menggenggam sesuatu. Anak kecil itu
mencoba mengangkat kakek dengan tangan kecilnya. Syukurlah. Orang-orang yang
melihat langsung memberanikan diri menolong kakek. Kakek dibawa ke mobil dan
anak itu masuk ke dalam. Sebelum Mobil berangkat dia melihat ke toko ini.
Tunggu. Dia memperhatikanku. Oh tidak, aku sangat senang.
Hari ini salah satu temanku, Olimpier sudah dibeli seorang bapak-bapak.
Mungkin beliau membelikan bola untuk anaknya. Jangan tanya. Aku sudah tidak
betah lagi berada disini. Hei lihat. Anak berpakaian lusuh kemarin. Dia ada di
seberang jalan. Anak itu sungguh manis walau dengan pakaian kusuhnya. Dia
membantu orang buta dan nenek-nenek menyebrang. Aku lihat dia menggenggam
sesuatu ditangan kanannya. Mungkin karena dia tidak memiliki saku, Dia selalu
menggengam barangnya. Anak itu berjalan ke arah toko.Tunggu, kenapa aku gugup?
Anak berpakaian lusuh itu sudah tiba di
toko. Dia bilang sesuatu kepada pemilik toko. Lalu dia berjalan
melihat-lihat. Dia hampir mencapai etalase ku. Oh tidak jangan lewati aku. Aku
tidak mau berlama lama lagi ditempat ini. Tolong pilih aku. Aku menggelindingkan
badanku dan aku terjatuh dari etalase terkutuk itu.
“ Hai nak,hati-hati dengan barangnya!”
seru pemilik toko .
“ Aku tidak menyentuhnya” jawab si anak.
“ Kau mau beli yang mana? Uangmu
berapa?” tanya pemilik toko dengan ketus.
“50 ribu pak” ucap anak itu dengan antusias.
Pemilik toko memegangku. Sudah bertahun-tahun aku tidak di pegang. Pemilik
toko menepuk nepukku. Mengusir debu yang semula bersarang ditubuhku. Pemilik toko
menyodorkan ku ke anak itu. Aku senang sekali. Akhirnya aku punya pemilik. Aku
tidak sabar bermain dengan anak lusuh ini. Mulai sekarang aku akan memanggilnya
Kapten, ya Kapten.
Kapten membawa ku pulang ke rumahnya. Aku lihat rumahnya sudah berlubang
disana sini. Aku sudah berada ditempat baruku. Tapi kenapa disini gelap dan
berdebu? Mungkin Kapten belum mau memainkan ku. Lagipula aku sudah biasa berada
di tempat berdebu. Ini kurang lebih sama seperti etalase, bedanya disini gelap.
Tenanglah. Sebentar lagi anak itu pasti ingin bermain dengan bola barunya.
Aku mendengar derit pintu kayu yang terbuka. Suaranya terdengar nyaring.
Mungkin karena engselnya sudah tua.
“Aku pulang!” seru Kapten.
Aku tidak tahu,kenapa tidak ada yang
menjawabnya.
“Seribu,dua ribu, tiga ribu, sepuluh
,dua puluh, ah belum cukup untuk membeli sepatu.” katanya dengan lesu.
Kapten memasuki kamarnya dan
mengangkatku ke dari kolong tempat tidur. Aku senang akhirnya aku akan segera
dimainkan. Kapten menatapku dengan bahagia. Tapi sekejap itu dia menaruh ku
kembali ke kolong tempat tidur reotnya. Aku kecewa. Kapten tidak suka denganku.
Buktinya dia menaruhku ditempat gelap seperti ini. Kapten juga tidak
memainkanku. Lali kenapa dia membeliku? Dasar Kapten menyebalkan.
Aku berdiam dikolong, aku sangat bosan menunggu ditempat gelap seperti
ini. Kapten pergi setelah bangun tidur. Aku tidak tahu dia pergi kemana. Tapi
dia selalu pergi dengan membawa karung dan tongkat kecil. Apa yang dia lakukan?
Apakah Kapten tidak pergi ke sekolah? Entahlah. Aku sedang marah padanya.
Jangan bahas dia.
Cahaya mentari menembus rumah Kapten yang berlubang lubang. Di kamarnya
hanya ada hanya satu jendela. Itupun tidak dibuka. Gelap. Aku sangat bosan
disini. Di etalase aku bisa melihat mobil berlalu lalang. Menghitungnya,
menebak warna mobik selanjutnya, itu lebih baik ketimbang disini. Menyebalkan.
Ini lama sekali sudah lima kali jam dinding di atas sana menghampiri
angka sembilan. Aku hanya tau angka sembilan saja. Karena Olimpier yang memberi
tahu ku. Sudahlah, aku memang bola yang bodoh. Jangan ejek aku. Ditengah tengah
lamunanku, Aku mendengar suara pintu reot dibuka. Setidaknya ada suara dirumah
ini. Bosanku lumayan meluntur. Aku melihat tiga orang memasuki kamar Kapten.
Mau apa mereka?
Tiga orang tadi membereskan kamar Kapten sekilas, sekejap itu ada dia
orang lelaki yang memasuki kamar Kapten. Tunggu. Kenapa kaki Kapten? Dia
dibantu oleh dia orang lekaki tadi untuk memasuki kamarnya. Mungkin Kapten lupa
cara masuk kamar. Tapi kupikir manusia tidak akan melupakan hal seperti itu.
Kaki Kapten diberi benda berwarna putih. Ya,aku tahu warna-warna karena
Olimpier mengajakku menebak warna mobil.
“Terimakasih Pak, kalau tidak ada bapak
semua menolong saya, mungkin saya sudah mati kesakitan di pinggir jalan.” Kata
Kapten dengan lugu.
“Lain kali kamu bisa memungut di dekat
rumah saya itu, disana banyak botol-botol plastik bekas.” Kata bapak-bapak
berbadan gemuk.
“Di depan rumah saya juga ada tempat
sampah lumayan besar. Janganlah ke tengah-tengah jalan, pada hal disekitarmu
saja banyak botol-botol yang kamu cari.” Kata bapak-bapak berjenggot lebat.
“Terimakasih Pak, saya akan lebih
hati-hati agar tidak merepotkan bapak sekalian lagi”. Ucap Kapte Bapak-bapak tadi pergi dengan meninggalkan
belas kasihan yang mendalam kepada Kapten. Sampai sekarang aku belum paham,
Kapten kenapa sih? Aku mendengar
Kapten berjalan dengan tertatih-tatih menuju dapur. Beberapa hari ini Kapten
tidak pergi.
“Hei bola, aku mungkin tidak bisa
memainkanmu.” Kata Kapten setelah mengambilku dari kolong tempat tidurnya.
Kata-katanya sukses membuatku hilang
semangat. Lalu dengan siapa aku bermain? Kapten sangat kejam. Dia
membeliku,mencampakkanku,dan tidak mau main denganku. Mungkin setelah ini aku
akan dibuang.
Pandangan Kapten tertuju pada kaki kirinya. Kaki yang diberi benda
berwarna putih. Seketika katanya menjadi sayu, dia menunduk. Samar kudengar
Kapten sesenggukan. Setelah itu ada butiran air yang membasahi ku. Dia
memelukku dengan erat dan dalam, Kapten menangis tanpa suara. Lama-lama
tangisnya semakin keras. Aku tidak kuasa mendengarnya. Tanpa disadari Kapten
terlelap dalam tangisnya.
Suara kokok ayam membangunkan kami. Aku belum melihat cahaya menembus
dinding rumah Kapten. Tapi ayam sudah bersahut-sahutan di luar sana. Kapten
meninggalkanku dan segera menuju kamar mandi. Dia kembali ke kamar dengan muka
tangan dan kaki yang dipenuhi butiran-butiran air. Dia membentangkan kain di
bawah kakinya,menggunakan penutup kepala, lalu duduk. Mungkin Kapten sedang
piknik. Tapi setelah itu Kapten menengadahkan tangan nya. Mungkin itu yang
disebut berdoa. Bukan piknik.
Sekarang sudah tidak ada suara suara kokokan ayam. Cahaya mentari sudah
memasukki kamar Kapten. Kapten berpakaian lumayan rapi hari ini. Tapi tetap
saja dipakaian terbagusnya itu terdapat lubang kecil. Mungkin terlalu lama
disimpan dan menjadi cemilan hewan pengerat. Kapten terlihat ceria memakai baju
merah itu. Untuk pertama kalinya, Kapten membawaku pergi kesuatu tempat. Aku
dibungkus dengan rapi. Aku tidak bisa melihat apa pun saat ini. Kapten, tolong
berhati-hati lah.
Suara anak-anak bersahutan
diluar sana,seperti suara bayi burung yang rindu ibunya. Aku menjadi tidak
sabar melihat wajah manis bayi-bayi burung itu. Aku tidak sabar bermain dengan
mereka. Berada ditengah-tengah canda tawa mereka.Ya, berada ditengah populasi
anak-anak lusuh lainnya. Anak-anak yang berbeda dengan anak-anak biasanya. Aku
suka mereka.
Setelah bungkusanku dibuka, anak-anak seketika berseru kegirangan.
Mereka memegangku bergantian. Ketahuilah,aku tidak pernah sesenang ini
sebelumnya. Terimakasih Kapten.
“Bola kita baruuuuu yeay!” Seru anak berambut keriting.
“Wah, kereeennn. Kita bisa main bola
lagi.” Seru anak lain tak kalah semangat.
“Tapi maaf ya, Kakak ngga bisa nemenin kalian main.” Kata
Kapten sembari membendung tangisnya. Terlihat senyumnya yang manis sedikit
dipaksakan.
Raut muka anak-anak berubaj sendu.
Pancaran keceriaan Dimana mereka seolah redup. Semua berusaha menahan tangis,
dan menjadi setegar guru mereka yang juga menjadi kakak yang paling mereka
cintai.
Anak berambut meriting uang
berada di ujung ruangan itu dari tangan anak
lain. Sembari menghapus air katanya dengan kasar, Dia berdiri dengan penuh
semangat.
“Saat ini bukan waktunya kita bersedih! Lihat!
Kakak sudah membelikan kita bola, dia sudah menabung untuk membelikan kita bola
ini.” Serunya terlihat menyembunyikan kesedihannya.
“Ayolah kawan, kita cetak gol
sebanyak-banyaknya hari ini.” Kata anak lain tak kalah semangat.
Kapten terlihat menyunggingkan
senyumnya. Akhirnya,aku bisa bermain dengan anak-anak. Terimakasih Kapten. Rasanya
tidak rela untuk meninggalkan detik-detik berharga ini.
Di tengah-tengah permainan Kapten pergi membeli minum bersama anak
perempuan dikepang dua. Dari arah berlawanan, motor hitam itu melaju dengan
sangat kencang. Anak-anak menghentikan permainan ketika mendengar suara klakson
panjang. Pandangan mereka tertuju pada Kapten dan anak perempuan itu.
Syukurlah, Kapten berhasil menyelamatkan anak itu. Kali bernafas lega, dan akan
melanjutkan permainan.
Gubraaag! Anak-anak menoleh
serentak tan segera berlari kesumber suara. Kami terpaku. Darah segar
membanjiri aspal dibawah mobil silver itu. Kapten kami sudah terbaring tak
berdaya di aspal hitam berbatu. Semua anak berteriak,air mata seolah mendesak
untuk keluar dari tempatnya. Apa yang kami rasakan saat ini tidak bisa digambarkan.
Hancur. Aku menarik kata-kataku. Bukan detik-detik seperti ini yang aku
inginkan. Bukan detik-detik ini yang tak rela ku tinggalkan. Aku benci Kapten.
Dia meninggalkanku di saat seperti ini. Bagaimanapun, terimakasih Kapten.