falling snow

Minggu, 18 November 2018

CONTOH PUISI UNTUK SAHABAT




ULYA

Oleh : Lia Dwi Arifatun


Benderang wajah merahmu
Selalu menarik sudut-sudut mataku
Ujung-ujung jari indahmu
Bersih dari cat-cat merah biru
Tatkala kembang senyummu
Entahlah....
Tak bisa aku melepaskan pandanganku
Sudikah kau memberi tetes-tetes pengampunan?
Sudikah hati lembutmu mengusir salahku?
Duka mu mendatang kan malam dikalbuku
Murungmu mengusik setiap mimpiku
Padam nya gelora mu juga alasan padam nya mataku
Entahlah..
Tetap juga tak jemu mata kecilku ini
Menambatkan pandangan di rona pipimu
Terimakasih ULYA , motivasiku :)


Minggu, 04 November 2018

CONTOH CERPEN TEMA SAHABAT



KAPTEN
Oleh : Lia Dwi Arifatun

          Sudah bertahun tahun aku ada di toko ini. Aku dipajang di etalase paling depan. Tapi tetap saja belum ada yang membeliku. Padahal aku bukanlah bola yang murahan. Walaupun hargaku bisa di bilang murah. Sudah bertahun-tahun aku disini. Sudah bertahun-tahun pula aku bersabar ketika melihat bola lain dipilih dan dibeli oleh majikan barunya. Molter dan Mikasla. Aku sebal melihat mereka. Mereka baru datang seminggu yang lalu. Tetapi sudah banyak anak-anak muda yang membelinya. Harga mereka memang beda jauh denganku. Tapi percayalah, Aku adalah bola yang setia. Kadang Aku marah dengan Tuhan. Tapi aku lebih sering menggantungkan doa-doaku di sisi-Nya. Bola yang plin-plan.
          Aku terkejut ketika mendengar suara hantaman yang keras. Oh tidak. Ada kakek-kakek yang tertabrak Mobil. Kecelakaan itu begitu mengerikan. Kepala si Kakek berdarah. Aku tak sanggup melihatnya, aku lebih memilih memejamkan mataku. Tidak bisa. Aku penasaran. Semua orang di sekeliling kakek itu tidak berani menolong. Aku gemas. Manusia seperti apa mereka. Tiba-tiba anak kecil datang. Ia memakai pakaian lusuh, dan dia menggenggam sesuatu. Anak kecil itu mencoba mengangkat kakek dengan tangan kecilnya. Syukurlah. Orang-orang yang melihat langsung memberanikan diri menolong kakek. Kakek dibawa ke mobil dan anak itu masuk ke dalam. Sebelum Mobil berangkat dia melihat ke toko ini. Tunggu. Dia memperhatikanku. Oh tidak, aku sangat senang.
          Hari ini salah satu temanku, Olimpier sudah dibeli seorang bapak-bapak. Mungkin beliau membelikan bola untuk anaknya. Jangan tanya. Aku sudah tidak betah lagi berada disini. Hei lihat. Anak berpakaian lusuh kemarin. Dia ada di seberang jalan. Anak itu sungguh manis walau dengan pakaian kusuhnya. Dia membantu orang buta dan nenek-nenek menyebrang. Aku lihat dia menggenggam sesuatu ditangan kanannya. Mungkin karena dia tidak memiliki saku, Dia selalu menggengam barangnya. Anak itu berjalan ke arah toko.Tunggu, kenapa aku gugup?
         Anak berpakaian lusuh itu sudah tiba di  toko. Dia bilang sesuatu kepada pemilik toko. Lalu dia berjalan melihat-lihat. Dia hampir mencapai etalase ku. Oh tidak jangan lewati aku. Aku tidak mau berlama lama lagi ditempat ini. Tolong pilih aku. Aku menggelindingkan badanku dan aku terjatuh dari etalase terkutuk itu.
“ Hai nak,hati-hati dengan barangnya!” seru pemilik toko .
“ Aku tidak menyentuhnya” jawab si anak.
“ Kau mau beli yang mana? Uangmu berapa?” tanya pemilik toko dengan ketus.
“50 ribu pak” ucap  anak itu dengan antusias.
         Pemilik toko memegangku. Sudah bertahun-tahun aku tidak di pegang. Pemilik toko menepuk nepukku. Mengusir debu yang semula bersarang ditubuhku. Pemilik toko menyodorkan ku ke anak itu. Aku senang sekali. Akhirnya aku punya pemilik. Aku tidak sabar bermain dengan anak lusuh ini. Mulai sekarang aku akan memanggilnya Kapten, ya Kapten.
         Kapten membawa ku pulang ke rumahnya. Aku lihat rumahnya sudah berlubang disana sini. Aku sudah berada ditempat baruku. Tapi kenapa disini gelap dan berdebu? Mungkin Kapten belum mau memainkan ku. Lagipula aku sudah biasa berada di tempat berdebu. Ini kurang lebih sama seperti etalase, bedanya disini gelap. Tenanglah. Sebentar lagi anak itu pasti ingin bermain dengan bola barunya.
         Aku mendengar derit pintu kayu yang terbuka. Suaranya terdengar nyaring. Mungkin karena engselnya sudah tua.
“Aku pulang!” seru Kapten.
Aku tidak tahu,kenapa tidak ada yang menjawabnya.
“Seribu,dua ribu, tiga ribu, sepuluh ,dua puluh, ah belum cukup untuk membeli sepatu.”  katanya dengan lesu.
Kapten memasuki kamarnya dan mengangkatku ke dari kolong tempat tidur. Aku senang akhirnya aku akan segera dimainkan. Kapten menatapku dengan bahagia. Tapi sekejap itu dia menaruh ku kembali ke kolong tempat tidur reotnya. Aku kecewa. Kapten tidak suka denganku. Buktinya dia menaruhku ditempat gelap seperti ini. Kapten juga tidak memainkanku. Lali kenapa dia membeliku? Dasar Kapten menyebalkan.
          Aku berdiam dikolong, aku sangat bosan menunggu ditempat gelap seperti ini. Kapten pergi setelah bangun tidur. Aku tidak tahu dia pergi kemana. Tapi dia selalu pergi dengan membawa karung dan tongkat kecil. Apa yang dia lakukan? Apakah Kapten tidak pergi ke sekolah? Entahlah. Aku sedang marah padanya. Jangan bahas dia.
          Cahaya mentari menembus rumah Kapten yang berlubang lubang. Di kamarnya hanya ada hanya satu jendela. Itupun tidak dibuka. Gelap. Aku sangat bosan disini. Di etalase aku bisa melihat mobil berlalu lalang. Menghitungnya, menebak warna mobik selanjutnya, itu lebih baik ketimbang disini. Menyebalkan.
         Ini lama sekali sudah lima kali jam dinding di atas sana menghampiri angka sembilan. Aku hanya tau angka sembilan saja. Karena Olimpier yang memberi tahu ku. Sudahlah, aku memang bola yang bodoh. Jangan ejek aku. Ditengah tengah lamunanku, Aku mendengar suara pintu reot dibuka. Setidaknya ada suara dirumah ini. Bosanku lumayan meluntur. Aku melihat tiga orang memasuki kamar Kapten. Mau apa mereka?
         Tiga orang tadi membereskan kamar Kapten sekilas, sekejap itu ada dia orang lelaki yang memasuki kamar Kapten. Tunggu. Kenapa kaki Kapten? Dia dibantu oleh dia orang lekaki tadi untuk memasuki kamarnya. Mungkin Kapten lupa cara masuk kamar. Tapi kupikir manusia tidak akan melupakan hal seperti itu. Kaki Kapten diberi benda berwarna putih. Ya,aku tahu warna-warna karena Olimpier mengajakku menebak warna mobil.
“Terimakasih Pak, kalau tidak ada bapak semua menolong saya, mungkin saya sudah mati kesakitan di pinggir jalan.” Kata Kapten dengan lugu.
“Lain kali kamu bisa memungut di dekat rumah saya itu, disana banyak botol-botol plastik bekas.” Kata bapak-bapak berbadan gemuk.
“Di depan rumah saya juga ada tempat sampah lumayan besar. Janganlah ke tengah-tengah jalan, pada hal disekitarmu saja banyak botol-botol yang kamu cari.” Kata bapak-bapak berjenggot lebat.
“Terimakasih Pak, saya akan lebih hati-hati agar tidak merepotkan bapak sekalian lagi”. Ucap Kapte  Bapak-bapak tadi pergi dengan meninggalkan belas kasihan yang mendalam kepada Kapten. Sampai sekarang aku belum paham, Kapten kenapa sih? Aku mendengar Kapten berjalan dengan tertatih-tatih menuju dapur. Beberapa hari ini Kapten tidak pergi.
“Hei bola, aku mungkin tidak bisa memainkanmu.” Kata Kapten setelah mengambilku dari kolong tempat tidurnya.
Kata-katanya sukses membuatku hilang semangat. Lalu dengan siapa aku bermain? Kapten sangat kejam. Dia membeliku,mencampakkanku,dan tidak mau main denganku. Mungkin setelah ini aku akan dibuang.
       Pandangan Kapten tertuju pada kaki kirinya. Kaki yang diberi benda berwarna putih. Seketika katanya menjadi sayu, dia menunduk. Samar kudengar Kapten sesenggukan. Setelah itu ada butiran air yang membasahi ku. Dia memelukku dengan erat dan dalam, Kapten menangis tanpa suara. Lama-lama tangisnya semakin keras. Aku tidak kuasa mendengarnya. Tanpa disadari Kapten terlelap dalam tangisnya.
       Suara kokok ayam membangunkan kami. Aku belum melihat cahaya menembus dinding rumah Kapten. Tapi ayam sudah bersahut-sahutan di luar sana. Kapten meninggalkanku dan segera menuju kamar mandi. Dia kembali ke kamar dengan muka tangan dan kaki yang dipenuhi butiran-butiran air. Dia membentangkan kain di bawah kakinya,menggunakan penutup kepala, lalu duduk. Mungkin Kapten sedang piknik. Tapi setelah itu Kapten menengadahkan tangan nya. Mungkin itu yang disebut berdoa. Bukan piknik.
       Sekarang sudah tidak ada suara suara kokokan ayam. Cahaya mentari sudah memasukki kamar Kapten. Kapten berpakaian lumayan rapi hari ini. Tapi tetap saja dipakaian terbagusnya itu terdapat lubang kecil. Mungkin terlalu lama disimpan dan menjadi cemilan hewan pengerat. Kapten terlihat ceria memakai baju merah itu. Untuk pertama kalinya, Kapten membawaku pergi kesuatu tempat. Aku dibungkus dengan rapi. Aku tidak bisa melihat apa pun saat ini. Kapten, tolong berhati-hati lah.
      Suara anak-anak bersahutan diluar sana,seperti suara bayi burung yang rindu ibunya. Aku menjadi tidak sabar melihat wajah manis bayi-bayi burung itu. Aku tidak sabar bermain dengan mereka. Berada ditengah-tengah canda tawa mereka.Ya, berada ditengah populasi anak-anak lusuh lainnya. Anak-anak yang berbeda dengan anak-anak biasanya. Aku suka mereka.
     Setelah bungkusanku dibuka, anak-anak seketika berseru kegirangan. Mereka memegangku bergantian. Ketahuilah,aku tidak pernah sesenang ini sebelumnya. Terimakasih Kapten.
“Bola kita baruuuuu yeay!” Seru anak berambut keriting.
“Wah, kereeennn. Kita bisa main bola lagi.” Seru anak lain tak kalah semangat.
“Tapi maaf ya, Kakak ngga bisa nemenin kalian main.”  Kata Kapten sembari membendung tangisnya. Terlihat senyumnya yang manis sedikit dipaksakan.
Raut muka anak-anak berubaj sendu. Pancaran keceriaan Dimana mereka seolah redup. Semua berusaha menahan tangis, dan menjadi setegar guru mereka yang juga menjadi kakak yang paling mereka cintai.
        Anak berambut meriting uang berada di ujung ruangan itu  dari tangan anak lain. Sembari menghapus air katanya dengan kasar, Dia berdiri dengan penuh semangat.
“Saat ini bukan waktunya kita bersedih! Lihat! Kakak sudah membelikan kita bola, dia sudah menabung untuk membelikan kita bola ini.” Serunya terlihat menyembunyikan kesedihannya.
“Ayolah kawan, kita cetak gol sebanyak-banyaknya hari ini.” Kata anak lain tak kalah semangat.
Kapten terlihat menyunggingkan senyumnya. Akhirnya,aku bisa bermain dengan anak-anak. Terimakasih Kapten. Rasanya tidak rela untuk meninggalkan detik-detik berharga ini.
        Di tengah-tengah permainan Kapten pergi membeli minum bersama anak perempuan dikepang dua. Dari arah berlawanan, motor hitam itu melaju dengan sangat kencang. Anak-anak menghentikan permainan ketika mendengar suara klakson panjang. Pandangan mereka tertuju pada Kapten dan anak perempuan itu. Syukurlah, Kapten berhasil menyelamatkan anak itu. Kali bernafas lega, dan akan melanjutkan permainan.
        Gubraaag! Anak-anak menoleh serentak tan segera berlari kesumber suara. Kami terpaku. Darah segar membanjiri aspal dibawah mobil silver itu. Kapten kami sudah terbaring tak berdaya di aspal hitam berbatu. Semua anak berteriak,air mata seolah mendesak untuk keluar dari tempatnya. Apa yang kami rasakan saat ini tidak bisa digambarkan. Hancur. Aku menarik kata-kataku. Bukan detik-detik seperti ini yang aku inginkan. Bukan detik-detik ini yang tak rela ku tinggalkan. Aku benci Kapten. Dia meninggalkanku di saat seperti ini. Bagaimanapun, terimakasih Kapten.